Ada GMA di peringatan Hari HAM Dunia

By: Teuku Nazar dan Ade “Een” Kushendra*

HAM final

Musisi berpolitik?

Pertanyaan itu dilontarkan kepada kami seusai terlibat di dalam peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Dunia pada tanggal 10 Desember 2012 kemarin. Aksi damai yang berpusat di bundaran Simpang Lima diadakan oleh beberapa NGO dan civil society yang ada di Aceh dan dikomandoi oleh Koalisi NGO HAM. GMA ikut di dalam aksi damai tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kami harus merujuk ke diskusi yang diadakan beberapa hari sebelumnya ketika rapat persiapan keikutsertaan GMA di aksi tersebut. Saat itu, pertanyaan yang sama diajukan oleh seorang teman (sebut saja namanya Bastera, 22 tahun). Berbekal laptop dan wifi gratis di warung kopi Pak Nek Peunayong, aku dan Een mendapat jawaban dari mbah Google, dan salah satunya adalah teori Aristoteles mengenai politik yaitu “politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama” (Wikipedia). Jadi kalau musisi ikut di peringatan Hari HAM Dunia tersebut sah-sah saja karena musisi juga warga negara dan aksi damai tersebut bertemakan: Aceh Darurat Kemanusiaan, dimana menurut Bang Zulfikar Muhammad, Direktur Koalisi NGO HAM Aceh: “Aceh terancam ke dalam situasi darurat kemanusiaan. Di saat penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa konflik kian tak jelas, pelanggaran HAM di Aceh justru menemukan bentuk barunya, seperti kekerasan komunal, penerapan syariah Islam yang belum manusiawi, dan pelanggaran kebebasan beragama. Ironinya, negara justru absen dalam upaya penyelesaian.” (Kompas, 10 Desember 2012).

Namun, ada hal lain yang menggerakkan musisi Aceh ikut berpartisipasi di dalam aksi tersebut. Kebebasan berkesenian dan kebebasan berekspresi adalah bagian dari Hak Asasi Manusia! Tentu kita tidak ingin Hak Asasi Manusia yang spesifik sekali milik pelaku seni ini direnggut oleh pribadi-pribadi yang apriori terhadap kesenian. Kita tentu setuju hak berkesenian dan berekspresi di Aceh harus mengikuti aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku. Tapi tidak setuju apabila dibelenggu oleh kebijakan-kebijakan politis yang dibuat demi menarik simpati dan dukungan kelompok masyarakat tertentu yang memandang sinis kerja-kerja kesenian, ataupun dikekang karena faktor “like and dislike”. 

Beberapa kasus pelarangan pertunjukan musik terjadi di Aceh. Umumnya karena “kecemasan yang tidak perlu” dari beberapa ormas atau pun birokrat yang “menduga” apabila konser tersebut dilakukan akan menyebabkan terjadi banyak “pelanggaran” syariah. Beberapa komponen masyarakat terutama dari kalangan seni bereaksi dengan hanya mengelus dada, pasrah dengan kondisi tersebut. Ada yang bereaksi dengan mencak-mencak dan mengeluarkan statement spontan seperti: “Kok bisa tahu akan terjadi pelanggaran?”, atau  “Penyelenggara pertunjukan mana yang tidak akan tunduk peraturan? Ini periuk nasinya, pasti akan dijaga baik-baik!”, dan sebagainya.

Apapun alasannya, hari itu musisi ikut bergerak menyuarakan terwujudnya penegakan keadilan hak asasi manusia di Aceh kita yg tercinta.

KONSER DI SIMPANG LIMA

Musisi tidak akan jauh dari panggung. Demikian juga dengan kami di hari itu. Seperangkat alat band dan sound system telah tersedia di bundaran Simpang Lima pagi harinya. Jalan belokan ke arah Kuta Alam ditutup, dan menjadi arena bagi kami. Pasukan GMA yang ikut main di “konser” tersebut antara lain Aku (Teuku “Deden Drummer” Nazar), Een, Sahar DiM, Imam DiM, dan Olenk Myung. Ketua GMA bang Mahfud menjadi “dirigen” kami  dengan mengatur lagu apa yang harus dimainkan dan kapan harus bersuara, kapan harus diam, kapan harus keras dan kapan harus lembut. Wakil Ketua GMA Pak Guru Reza Idria ikut berorasi dengan sangat berapi-api. Sedangkan Si ketua tim Media GMA Bastera Rusdi sibuk berputar-putar mencari momen yang penting untuk direkamnya. Ada Made in Made yang ngetem di lampu merah depan Pizza Hut dan sibuk memukulkan kentongan bambu untuk menarik perhatian pengguna jalan. Ayie Adler yang baru saja kecelakaan sepeda motor juga turut hadir dengan senyum manisnya.

Beberapa aktifis yang ikut bernyanyi dengan kami mengatakan bahwa ini adalah konser musik pertama yang diadakan di bundaran Simpang Lima. Selama ini aksi demonstrasi yang ada musiknya hanya diiringi oleh gitar akustik saja. WOW!! Ini sejarah dong??? Bangga sekali bisa membuat sejarah di Hari HAM Dunia!

Lagu-lagu Iwan Fals dan Slank mendominasi “konser” kami. Setiap sebuah orasi yang dilakukan oleh aktifis, pasti akan diikuti oleh penampilan sebuah lagu dari kami.

Pukul 12 lewat 20 menit, aksi damai itu selesai. Kami mengepak kembali peralatan untuk dikembalikan kepada bang Gustav si pemilik sound. Lalu kami pun menuju ke Warung Kopi Pak Nek untuk menikmati kopi nikmat di siang itu. (TN/Een)

Seni, terutama musik, adalah anugerah Tuhan YME, sudah pasti baik dan indah. Yang membuat jelek atau memberi citra buruk terhadap kesenian adalah oknum pelaku seni.

* musisi, aktif di GMA dan ID-A (Indonesian Drummers – Aceh)

About gmaceh

Gabungan Musisi Aceh
Image | This entry was posted in Campaign and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s