Dua Versi Inverno; Rock Aceh Rasa God Bless

MUHAJIR ABDUL AZIZ | Foto : ISTIMEWA | Sabtu, 24 November 2012 17:10 WIB

DI atas panggung berukuran besar itu, empat anak muda mulai menunjukkan eksistensinya bermusik. Melodi meraung-raung; menyesap ke dalam adrenalin. Lalu, ritme menyelingi dengan cabikan bas. Tanah basah Blangpadang, yang diguyur hujan beberapa jam sebelumnya, seolah mendadak “kering” ketika Burn-nya Deep Purple menghentak lewat perangkat suara.

Empat pemuda di atas panggung itu tentu bukan Deep Purple asli. Merekalah Inverno, salah satu band rock di Aceh. Minggu malam, 13 November 2011, mereka tampil sebagai band pembuka konser God Bless di Banda Aceh. Itu konser kedua God Bless di Banda Aceh. Sebelumnya pada 1991, band “gaek” itu juga pernah manggung di Banda Aceh.

Aksi pembuka oleh Inverno bahkan dilihat langsung oleh Ahmad Albar, dedengkot God Bless. Sedianya, setelah turun dari mobil, Ahmad Albar dan tim masuk ke kamar ganti di belakang panggung untuk persiapan. Namun, mereka malah nyelonong ke samping panggung menikmati Inverno menyuguhkan Deep Purple.

Usai Burn, awak Inverno menyasar ke tembang lain. Masih milik band rock sejagat, mereka membawakan Sweet Chil O’mine dari Gun N’ Roses, dan beberapa lagu beraroma cadas lainnya.

“Itu kesan yang paling hayeu (hebat) bagi kami selama bermusik,” kata Tebonk, pembetot bass Inverno. Mereka tahu ketika di atas pentas, Ahmad Albar dan Ian Antono melihat Inverno beraksi. “Tidak grogi, kami malah tambah semangat,” ujar Tebonk.

Menjadi band pembuka untuk band legenda, seperti God Bless, patut disyukuri. Mereka bisa, katakanlah, disejajarkan dengan Anggun C. Sasmi dan Power Metal. Pada 1991, ketika God Bless hadir di Stadion Lampineung, Anggun C. Sasmi dan Power Metal menjadi pembuka konser. Anggun kini sudah melanglang buana bermusik ke daratan Eropa, sedangkan Power Metal pernah merajai Indonesia pada 1990-an.

Bagaimana dengan Inverno? Beberapa pekan lalu, mereka juga menjadi band yang tampil bersama dengan Andi /rif dalam acara Gebyar Raya A Mild di Pantai Lampuuk, Aceh Besar. Walau tak seramai konser God Bless setahun lalu, penampilan Inverno di Lampuuk cukup menghentak.

“Mereka bermain dengan cukup keras, membawakan lagu-lagunya Led Zepelin, Gun N’ Roses, dan God Bless tanpa cela, cukup luar biasa,” ujar Andi ketika dijumpai The Atjeh Times setelah penampilan di Lampuuk. “Mereka akan jadi band besar suatu hari nanti”.

Pujian itu rasanya pantas dilekatkan pada Inverno. Kini band itu telah menjadi salah satu band papan atas di Banda Aceh. Selain untuk God Bless dan Andi /rif,  mereka selalu tampil di banyak acara festival musik. Mereka pernah tampil untuk acara Festival Folklore International di taman Ratu Safiatuddin pada 2011, di depan para penari dan budayawan luar negeri yang sedang berkumpul di Aceh.

***

Inverno dibentuk pada awal 2011 oleh Teddy Kelana dan Tebonk. Formasinya, Teddy Kelana sebagai vokal dan Tebonk bermain bass. Lalu, ada Teuku Furqan dan Jerry yang memetik dan mengocok gitar, serta Romel yang menabuh drum. Tebonk dan Teddy, sebelumnya punggawa X-BOX, band yang juga beraliran rock. Keluar dari X-BOX, mereka mendirikan Inverno.

Sebagai inisiator, Tebonk bermimpi menjadikan Inverno sebagai band besar. “Dari kecil saya bermimpi bisa jadi anak band, manggung, dan memberikan karya-karya terbaik kepada orang banyak,” kata Tebonk kepada The Atjeh Times, Kamis pekan lalu, di Taman Budaya Aceh.

Nama Inverno diambil dari bahasa Italia. Inverno berarti musim dingin yang mematikan. Teddy mengatakan musik rock memang musik keras, tapi jangan dianggap jahat. “Kita bisa soft, romantis, bisa juga keras,” ujar Teddy.

Apa yang dikatakan Teddy sejalan dengan judul album perdana mereka: Dua Versi. Furqan, sang gitaris, menjelaskan mereka bisa dilihat dari dua versi, bisa keras dan bisa lembut. “Sebagian besar musik kami berwarna rock, hardrock, alternatif, dan blues rock,” ujar Furqan yang selalu setia dengan gitar hijaunya.

Bahkan, kadang mereka banyak tampil dengan membawakan rock gaya lama, seperti Led Zepelin dan lainnya dengan suasana baru atau sound modern. Saat ini mereka sedang menggarap album Dua Versi yang berisi sembilan lagu. “Proses pengerjaannya kita lakukan di rumah musik Cibloe di kawasan Lamprit,” kata Tebonk.

“Kami ingin menciptakan musik yang bisa dinikmati semua orang dan karya yang akan selalu dikenang sepanjang masa,” kata Teddy. Di album perdana ini mereka juga dibantu suara drum yang ditabuh Dedy Mulia, drummer Seuramoe Reggae.

***

Kini Inverno terus berkarya bersama band-band lain di Aceh. Mereka berharap, masyarakat tidak memandang sebelah mata dan negatif kepada para musisi, khususnya musik rock. Menurut Teddy, rock bukan musiknya orang yang ugal-ugalan. Bahkan, vokalis yang suaranya melengking ini mengaku tidak merokok dan tidak pernah menenggak alkohol.

“Musik itu adalah seni, anak Aceh punya potensi untuk terus berkarya,” kata Teddy yang juga guru basket di Banda Aceh. Lelaki yang mengidolakan Axl Roses ini berharap musik Aceh bisa punya nama di pentas nasional. Untuk Inverno sendiri, mereka tidak berharap muluk. “Yang penting kami bisa terus bermusik, berkarya, dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ujar Teddy.[]

Source: Atjehpost

About gmaceh

Gabungan Musisi Aceh
Image | This entry was posted in GMA and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s