Profile: Rise To Revenge

“Orang Aceh suka lupa sejarah!” demikian statement Winda, vocalist band Rise to Revenge. “Mereka harus ingat, bahwa wanita Aceh terkenal karena keras dan tough. Dunia mencatat betapa tangguhnya Cut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati, Cut Mutia, dan lain-lain.”

Mahasiswi Fakultas Hukum Unsyiah ini menjelaskan betapa banyak cibiran dan ejekan yang diterimanya ketika dia memutuskan menjadi vokalis band Metal dan sering tampil di konser-konser rock Banda Aceh.

“Sepertinya masyarakat kita sukar menerima kalau ada perempuan yang garang dan suka teriak-teriak ala screaming di panggung, hahahaha… padahal aku ini garangnya cuman di panggung aja. Didalam kehidupan sehari-hari aku balek jadi cewek manis lagi kok hahaha.”

Karena cibiran dan ejekan yang diterimanya itu, maka Winda memutuskan untuk membentuk band yang diberi nama Rise to Revenge pada tahun 2010 yang lalu. Nama yang kira-kira artinya “Bangkit untuk Balas Dendam” ini dimaksudkannya untuk memberi motivasi agar dirinya terus berkreasi dengan genre yang disukainya.

“Aku cuman mau kasih tahu kepada orang-orang yang sexist itu, aku akan terus berusaha bermain sebaik mungkin dengan aliran yang kusukai. Ocehan-ocehan galau mereka tidak akan membuat ku berhenti, tapi malah  membakar semangatku untuk terus bermusik.”

Buah kerja keras mereka ternyata berbuah manis. Rise to Revenge sering diundang dan bermain di acara-acara musik, tidak hanya di metal gigs, parade atapun festival, juga bermain di kampus dimana mereka terus mendapat tanggapan yang sangat positif.

Awalnya Rise to Revenge beranggotakan Winda (vokal), Razi (gitar), Ikram (gitar), Syukran (drum) dan Nunul (bass). Nunul dan Ikram keluar di tahun 2011, sedangkan Syukran ikut keluar untuk melanjutkan studi-nya di kota Medan. Namun Winda dan Razi tidak patah semangat. Mereka mengajak Olenk (bass) , Nopi (drum) dan Ayie Adler (gitar) untuk bergabung.

Berikut interview Tim Media GMA bersama Winda dan Ayie Adler.

GMA: Hai Winda, Rise to Revenge ada  rencana gak bikin album sendiri?

Winda: Haiiii… ya iyalah bro, semua musisi dan band pasti ingin punya album sendiri. Demikian juga dengan kami. Sekarang kita lagi ngumpulin materi-materi yang kira-kira dianggap kuat dan mencerminkan karakter kami. Toh kita sering membawa lagu ciptaan sendiri.  Tapi, kami masih kurang puas, jadinya sering coba-coba merubah aransemennya biar feel nya sesuai dengan yang kita mau.

GMA: Kapan kira-kira albumnya keluar, Win?

Winda: Targetnya setahun atau dua tahun lagi. Kami tidak mau terburu-buru, apalagi kita sepakat album ini harus betul-betul perfect.

GMA: Bisa diceritakan konsep atau materi untuk bakal album kalian?

Winda: Mmmhhh.. Tentunya.. jenis musiknya adalah Metalcore. Kita akan memasukkan unsur-unsur melodi Aceh juga. Album ini pastinya akan sekeras dan sekencang mungkin, hahahaha…

GMA: Boleh tahu, Rise to Revenge mendapat influenced dari siapa?

Winda: Boleh dibilang The Agonist dari Quebec-Kanada memberi banyak pengaruh kepada band kami. Apalagi aku sangat senang dengan karakter dan gaya vokalisnya Alissa White-Gluz. Siapa bilang cewek gak bisa tampil keren di panggung musik metal.

GMA: Cerita dong, ada nggak kendala bermusik disini (Aceh)?

Winda: Waaaah banyaaaaak.. hahahaha… Contohnya ajang metal kita sedikit sekali, tidak sebanyak yang kita lihat di luar. Memang ada beberapa gigs yang dibikin oleh scene metal lokal, namun frekwensi nya jarang.

Ayie Adler: Itu pun banyak kendalanya, beberapa scene yang ada disini tidak bersatu. Band-band yang ada tidak saling support. Padahal kalau bersatu dan kompak pasti gigs dan konser akan lebih seru. Manajemen gigs juga kacau balau karena diurus oleh beberapa orang saja. Kalau gigs dipikir dan dikelola secara ramai-ramai, pasti kendala-kendala akan bisa diminimalisir, dan pasti akan lebih meriah.

GMA: Apa pendapat kalian mengenai keberadaan GMA (Gabungan Musisi Aceh)?

Ayie Adler: Bagus dan support! Kami sudah lihat, bahkan ikut terlibat di beberapa event GMA. Disini jelas kelihatan, para musisi yang tergabung dalam GMA bisa kompak tanpa terganggu dengan perbedaan usia ataupun genre.  Kita harapkan suasana kebersamaan dan kekeluargaan ini bisa menular ke scene metal yang ada di Banda Aceh.

GMA: Apa harapan Rise to Revenge ke depan?

Winda: Aku kepingin band ini dikenal tidak hanya di Banda Aceh saja. Maunya bisa dikenal di daerah lain juga. Pasti seru bisa ikutan gigs yang dibikin di daerah lain.

Demikian bincang-bincang singkat bersama Winda dan Ayie Adler dari Rise to Revenge. Untuk bisa berhubungan dengan mereka, bisa melalui:

Biodata Personil:

Nama: Winda
TTL: 6 Agustus 1990
Pekerjaan : Mahasiswi
Posisi  : Vocal
 
Nama: Teuku Razi Pratama
TTL: 11 Februari 1990
Pekerjaan : Mahasiswa
Posisi  : Gitar
 
Nama: Olenk
TTL: 9 Maret 1985
Pekerjaan : Eleven Music Studio
Posisi  : Bass
 
Nama: Nopi
TTL: 9 November 19xx
Pekerjaan : Eleven Music Studio
Posisi  : Drum
 
Nama: Ayie Adler
TTL: Rahasia
Pekerjaan : Mahasiswa
Posisi  : Gitar
Twitter: @ayie_cyie
 

Gallery:

 

About gmaceh

Gabungan Musisi Aceh
Image | This entry was posted in Profile and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s