Dedy Odezza, dari Musik Klasik ke Gitaris Rock

Oleh: TEUKU MAHFUD* | Foto: koleksi Dedy Odezza

Image

Bagi kalangan musisi dan pecinta musik Banda Aceh, pasti tidak ada yang tidak kenal dengan sosok bernama Dedy Iskandar atau yang lebih dikenal dengan nama Dedy Odezza. Berikut ringkasan mengenai Gitaris rock kawakan kelahiran 9 September 1971 ini dari artikel yang dimuat di blog Gen-K Aceh tanggal 13 Juni 2012

Mungkin tidak banyak yang tahu bagaimana sebenarnya sejarah ketertarikannya dengan gitar, dan kehidupan sehari-harinya, yang ternyata sangat ramah dan bersahaja. Berikut intisari perbincangan santai di suatu sore bersama Dedy Odezza.

Sebelum menggeluti  permainan gitar, Dedy ternyata  adalah penggemar musik-musik klasik. Kecintaannya terhadap musik klasik dan orkestra terlihat dengan banyaknya koleksi kaset klasik di kamarnya. Bahkan dia tidak melewatkan setiap kesempatan untuk menonton acara Telerama di TVRI. Untuk ukuran seorang musisi dia pun termasuk terlambat dalam memulai belajar instrumen. Dedy mulai belajar gitar di saat kelas II SMA. Tapi, yang menyebabkan dia “terjun” untuk mendalami gitar rock adalah saat menyaksikan Acara Perpisahan SMA nya di Jakarta pada tahun 1988.

“Saat itu, ada band yang gitaris-nya keren betul aksi dan gayanya!” kata Dedy. “Sejak saat itulah saya memutuskan untuk serius mendalami gitar.”

Determinasi dan semangat yang tinggi ternyata sangat mendukungnya dalam mendalami gitar. Hanya dalam waktu setahun Dedy pun mulai dikenal sebagai gitaris andal.

“Saya berlatih terus menerus. Dari pagi hingga pagi. Berhenti hanya untuk makan, mandi  ataupun tidur. Itu pun sebentar, hahaha.” katanya sambil tergelak.

Dedy pun terus berekspresi dengan band-band nya. Bahkan sampai bermain di Padang mewakili kampusnya Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala di tahun 1990. Ditahun itu juga dia membentuk Iron Soul yang berusia pendek. Kemudian di akhir 1990, terbentuklah Odezza, dengan personil pertama Raynir Raiz (drum), Pinem (Bass), Al Tato (Vocal), Dedy dan Deny (gitar). Raynir kemudian mengundurkan diri karena faktor kesehatan, dan digantikan oleh Faisal. Formasi inilah yang kemudian mengharu-birukan dunia musik Banda Aceh di tahun 1990-an.

Odezza tercatat sebagai juara II Festival Log Zhelebour 1991, dan Dedy pun terpilih menjadi gitaris terbaik di ajang ini. Pada tahun 1991, Odezza mengadakan konser tunggal pertama mereka dengan tiket yang sold out.  Dan pada konser tunggal II di tahun 1992 tiket sold out jauh-jauh hari, bahkan penonton pun ada yang menonton di atas tembok-tembok Taman Budaya Aceh.

Di tahun 1992, Dedy memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Namun tidak semua personil Odezza yang ikut bersamanya. Di Jakarta Dedy bergabung dengan studio Big Gun, dan membentuk band bernama why? bersama Fatah Mardiko (yang kemudian bergabung dengan EdanE) dan seringmembawakanlagu-lagu dari Extreme dan Lynch Mob. Selain nge-band, aktifitas lainnya adalah menjadi instruktur gitar di BIG GUN bersama gitaris-gitaris lainnya yang kemudian juga sangat terkenal seperti: Adek (Jet Liar, 7 Years Later), Ade Virguna, Firzi  dan lain-lain.

Di tahun 1993 why? ditawari rekaman oleh Warner Indonesia, dan dimodali untuk membuat demo yang dibuat di Bandung dan berkonsep hard rock. Namun Warner menolak demo tersebut dan meminta Dedy untuk membuat demo lain dengan konsep thrash metal, yang memang sedang naik daun di masa itu, dan Warner belum mempunyai band yang beralirah Thrash.

Dedy pun kembali ke Bandung dan membuat demo baru dengan Uce Haryono di drum, dan Ahmad Sahara di bass. Namun dia masih berkeras dengan gaya hard rock yang sangat dia cintai.

“Demo kedua juga ditolak, mereka tetap minta (aliran) Thrash Metal. Jadinya, Yaaaa saya tingalkan saja , hahaha.”

Sebagai gitaris, Dedy termasuk sangat laris dan sering diminta mengisi rekaman artis-artis ibukota, seperti album-albumnya Denada, Cool Colour dan penyanyi-penyanyi solo lainnya.

Image

Di tahun 1995, Dedy diminta pulang ke Banda Aceh untuk membantu usaha keluarga CV Pelangi, yang bergerak di bidang angkutan darat. “Saat itu, saya sedang mempersiapkan diri untuk sekolah di Jerman. Bahkan kemampuan bahasa Jerman saya sudah sangat lumayan ketika kursus di Goethe Institute. Tapi panggilan ini tidak dapat saya tolak.” kata Dedy.

Dedy pun aktif di bisnis angkutan dan usaha kontraktor. Sempat vakum nge-band selama dua tahun, di tahun 1997 Dedy membentuk band trio bersama Ulis (bass) dan Mahfud (drum), dan membawakan lagu-lagu Steve Vai dan Joe Satriani. Walaupun tidak aktif manggung, Dedy tetap latihan gitar di rumah.  Minimal 4 jam sehari.

Breakthrough kedua bagi Dedy adalah di tahun 2008, ketika dia memutuskan untuk membentuk kembali Odezza band. Penampilan perdananya di Konser Rindu Damai, dan sepanggung dengan band lawas Metazone, Metal Stone dan Mollusca. Dan dilanjutkan dengan Tribute Damai di tahun 2010. Odezza juga menjadi bintang tamu di acara Gen-K Keep The Peace I tahun 2010.

Mulai tahun 2011, Odezza mulai membuat rekaman untuk album perdananya, dengan formasi Jovnath (vocal), Iwan Xaverius (bass), Eko (drum), Deni dan Dedy (gitar). “Ini proyek impian saya, membuat album dengan konsep yang saya suka.”

Album ini diharapkan selesai di akhir tahun 2012 ini.

Ketika ditanya apa pendapatnya mengenai perkembangan musik di Banda Aceh sekarang, Dedy menjawab dengan menyayangkan kurangnya frekwensi bermain bagi band-band lokal. EO dan sponsor lebih senang bawa artis ibukota untuk bermain disini. Performing Fee untuk band lokal pun ditekan sekecil mungkin, harusnya EO dan sponsor mau membayar dengan pantas.

“Anak-anak sekarang bagus-bagus skill-nya.Cuma faktor trend musik sekarang yang komposisinya tidak rumit sehingga tidak terlalu menuntut skill tinggi, menyebabkan teknik dan lick gitaris sekarang, tidak keliahatan,” kata Dedy “Berbeda di era 80-an atau 90-an, dimana rata-rata komposisi lagu menyebabkan gitaris semuanya menjadi shredder.”

Diakhir perbincangan, Dedy Odezza berpesan kepada gitaris-gitaris muda Banda Aceh, untuk tetap semangat; perbanyak silaturahmi dengan banyak diskusi bersama senior dan rekan sebaya; latihan minimal 4 jam sehari, dan gunakan peralatan yang minimalis saja ketika latihan; Banyak dengarkan lagi-lagu lama dan peduli dengan lick/teknik; Harus sering bawakan karya sendiri; Harus bisa baca tablature; dan tetap STAY POSITIVE! Jauhi drugs dan free sex.

Untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Dedy Odezza, teman-teman dapat menghubunginya di melalui akun social media miliknya, seperti http://www.facebook.com/dedy.odezza dan akun twitter @DedyOdezza .

 

About gmaceh

Gabungan Musisi Aceh
Image | This entry was posted in Profile and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s