Dua Generasi Penabuh Drum Aceh

THE ATJEH TIMES PRINTED EDITION

Senin, 15 Oktober 2012 16:00 WIB | MUHAJIR ABDUL AZIZ | Foto : DOK THE ATJEH POST

Aceh hampir pernah menjadi kiblatnya musik rock di era 90-an. Ketika itu, banyak band Aceh tampil di pentas nasional, seperti Metazone, Metal Stone, dan Molusca.

______________________________________________

Suara drum berdentang, tabuhan dan gebukannya kadang menggema. Di atas panggung, lagu dari D’Masive melantun cepat. Seorang anak kecil dengan lincah memainkan stick  di tangannya. Di depan panggung, penonton, yang dipenuhi oleh musisi dan para penikmat musik di Banda Aceh, terkesima. Bak seorang rocker, bocah 4 tahun menabuh drum dengan lincah.

Dia adalah Yafie,  nama lengkapnya Muhammad Yafie, punya band namanyaYafie N Friends. Malam itu, Sabtu, 23 September 2012, mereka tampil di Pentas sagoe Jambo Kupi Apa Kaoy dalam acara Drummers Day.

Perhelatan ini digelar oleh Gabungan Musisi Aceh bersama Komunitas Gitar Aceh dan juga Indonesia Drummers Regional Aceh. Secara umum,  pertunjukan itu bertujuan memasyarakatkan musik di Banda Aceh. “Kita ingin mengampanyekan kepada warga Kota Banda Aceh bahwa kita punya drummer berbakat dan hebat-hebat,” kata Affandy Ecandrean, ketua panitia pelaksana, kepada The Atjeh Times, di sela-sela riuh rendah tabuhan drum.

Malam itu, bukan hanya Yafie yang tampil. GMA menyuguhkan beberapa drummer terbaik yang ada di Banda Aceh. “Selain penampilan, kita juga membuat coaching klinik dengan para penonton. Tujuannya agar acara ini juga bisa menjadi tempat belajar bersama,” tambah Ahmad Mirza, panitia pelaksana.

Setelah Yafie memukau penonton, giliran drummer Seuramoe Reggae, Dedi Mulia, unjuk kebolehan di atas panggung sederhana itu. Dia memainkan beberapa rhythm reggae dan juga memberi beberapa tips cara melakukan pukulan drum dasar dalam reggae.

Setelah Dedi Mulia, suasana kian panas ketika terjadi drum battle antara dua drummer band Banda Aceh. Teuku Rommel, drummer Horny Fever, adu kebolehan dengan Emrin Stein,drummer Psykoholic. Horny Fever dan Psykoholic adalah dua band rock papan atas di Aceh. Awal tahun ini, Horny Fever menjuarai Hard Rock Rising 2012, di Hard Rock Cafe Jakarta.

Setelah itu tampil Teuku Mahlil. Ia memukau penonton dengan gaya jazz rock yang kental. Beberapa kali Mahlil tetap bisa menguasai ketika drum bergeser karena pukulan. “Sebuah permainan yang sangat memuaskan,” komentar seorang penonton.

Usai Mahlil, tampil Gusti Protnoy. Bermain solo, Gusti memainkan lagu Dream Theater dan Minus One. Gusti membuat penonton tenang, seakan sedang menikmati Dream Theater tampil di Jambo ApaKaoy.

Kepada The Atjeh Times, Ketua Gabungan Musisi Aceh,Tueku Mahfud, berujar, pertunjukan itu bisa menjadi pemantik semangat untuk para musisi muda di Aceh untuk terus berkarya, “Khususnya para drummer, kita bercita-cita Aceh menjadi kiblatnya musik di Indonesia,” kata Mahfud.

+++

Aceh hampir pernah menjadi kiblatnya musik rock di era 90-an. Ketika itu, banyak band Aceh tampil di pentas nasional, seperti Metazone, Metal Stone,dan Molusca.

Metazone, pernah menjadi finalis tiga besar “Festival Rock Log Zelebor”pada 1996. Log Zhelebour merupakan festival rock paling bergengsi di Indonesia. Banyak band rock papan atas Indonesia jebolan festival ini. Sebut saja, misalnya, Power Metal, Jamrud, dan Boomerang. Saat itu, juga ada Adek Metazone, begitu namanya sering dipanggil. Ia terpilih sebagai drummerterbaik dalam festival musik rock terbesar di Indonesia itu.

Setelah era mereka, kini Aceh punya beberapa penabuh drum papan atas. Sebutlah Rio, misalnya. Dia drummer Xantafee, kadang juga bermain untuk Afthur, salah satu band di Banda Aceh. Alumni Fakultas Pertanian Unsyiah ini bisa dikatakan telah melanglang buana ke tingkat nasional.

Menurut Rio, secara permainan, saat ini drummer yang ada di Aceh sudah sangat bagus. Namun secara teori, Rio mengatakan drummer di Aceh harus banyak belajar lagi. “Teori-teori dasar harus ditingkatkan lagi. Ini yang penting karena bermain musik tidak boleh asal-asal,” kata Rio yang juga pernah bergabung dengan The Zakies, band mantan vokalis Kapten di Jakarta.

Selain Rio, Aceh juga punya Roy, drummer metal rock Maggots ini pernah membawa band-nya ke 25 besar “Festival Log Zhelebour” di Surabaya pada 2004. Maggots, band yang selalu tampil dengan cirri khas memakai topeng ala Slipknot, selalu punya fans fanatik. Ketika mereka di atas panggung, anak-anak muda pasti akan berhamburan ke depan panggung untuk ‘banger’ bersama, atau sekadar menggoyangkan kepala mengikuti ingar binger musik rock.

“Secara kualitas kita tidak kalah, tapi secara kuantitas masih kurang karena kurang panggung,” kata Roy yang berencana membuat konser tunggal di Banda Aceh dalam waktu dekat ini.

Tentang pengalaman manggung di luar, Roy mengatakan tidak ada yang istimewa. Baginya, justru lebih grogi bermain di Aceh dari pada di luar. Alasannya sederhana: di Aceh mereka bermain di rumah sendiri dan punya fans sendiri. “Tapi di luar tidak, kita tak punya beban,” kata Roy yang punya nama lengkap Roy Febri Andria.

Moritza Taher, biasa disapa Momo, salah seorang musisi jazz Aceh mengatakan, Aceh sudah punya drummer berkualitas sejak lama, sejak 1970-an. Momo menyebut nama Tito, salah seorang drummer gaek Aceh. “Ada juga Ranier Rais, dia juga drummer terbaik yang saya lihat dulu, nama band-nya Leuser. Tapi, sekarang dia tidak lagi bermain musik dan bekerja di Kantor Gubernur Aceh,” ujar Momo yang dihubungi The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Di mata Momo, secara kualitas dan kuantitas, lebih baik drummer sekarang. Katanya, di tengah teknologi yang melimpah, drummer sekarang bisa belajar kapan saja.“Kita buka YouTube, sudah ada videonya. Kita bisa langsung belajar di situ. Modalnya, kita harus rajin,” kata Momo yang juga penasihat di Gabungan Musisi Aceh itu.

Kepada drummer muda, Momo menaruh harapan.“Jangan patah semangat untuk terus belajar, jangan malu untuk terus bertanya, antara yang muda dengan yang tua jangan ada jurang pemisah,” kata Momo. []

About gmaceh

Gabungan Musisi Aceh
Image | This entry was posted in Drummers Day and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s