Musisi Banda Aceh Harus Bersatu

Oleh: T. Mahfud

Festival Musik Banda Aceh 2012 – Keep The Peace II, telah berakhir beberapa hari lalu, dan meninggalkan banyak keharuan dan suka yang tidak terkira. Walaupun ketidaksempurnaan ada di sana-sini, namun Gen-K sebagai panitia telah berusaha dengan maksimal untuk memuaskan para performers, sponsor, dan para penonton.

Cuaca yang baik, sound system yang baik, teman-teman yang bersahabat, penonton yang santun, memang merupakan berkah buat kita.  Walaupun sempat ditunda dua kali, akhirnya acara ini terlaksana pada tanggal 15-16 Juni 2012.

Dan Alhamdulillah, festival ini untuk sementara adalah satu-satunya yang didukung pemko Banda Aceh, melalui Disbudpar Kota.

Fitrah dari Horny Fever bahkan menyatakan apresiasinya di malam pembukaan acara:  “Guys!!! Salut untuk Pemko Banda Aceh! Ini satu-satunya festival musik yang dibiayai oleh pemerintah!”

Ada satu tagline yang muncul dalam festival ini, “Musisi Banda Aceh Harus Bersatu”.

Lho, memang ada apa dengan persatuan diantara kita? Banyak yang menjawab dan memberi pendapat bahwa sebenarnya memang terjadi gap diantara musisi-musisi yang ada di Banda Aceh, yaitu: Gap Generasi dan Gap Genre.

Ke-enggan-an musisi junior dan senior untuk berkumpul bersama, dijawab oleh seorang Tebonk Muntazier dengan memberi analisa: “ Kita harus kembali ke tahun 2003 ketika darurat militer diterapkan di Aceh, izin-izin pertunjukan sangat susah. Para musisi pun vakum dan mulai sibuk bekerja, menyelesaikan sekolah bahkan mulai berumah tangga.”

“Sedangkan diwaktu yang sama, musisi muda terus bermunculan, walau tanpa panggung. Absen-nya musisi senior karena konflik militer, menyebabkan yang junior dan senior tidak saling kenal.” pungkas Tebonk.

Gap genre juga menyebabkan musisi kita terkotak-kotak juga. Musisi dengan genre yang spesifik lebih senang ngumpul bersama penggemar genre sejenis. Akibatnya banyak musisi yang tidak tersambung silaturahmi karena perbedaan genre ini. Ulis Gundevil berkata: “Banyaknya jenis musik yang ada sekarang ini, harusnya tidak membuat kita terpisah-pisah. Banyaknya genre musik yang ada malah bisa memperkaya musikalitas kita. Bukan malah membuat kita berbeda.”

 Tidak saling kenal!!! Inikah masalahnya?

“Bukan! Banyak hal lain juga!” jawab Mahlil, drummer dari kelompok From Yesterday. “Terkadang musisi yang seangkatan saling bersaing satu sama lain. Memperebutkan jam pentas yang jumlahnya memang sangat sedikit, dan juga penggemar.”

“Ada musisi yang sedang naik daun, gayanya pun berubah seperti artis top ibukota! Kawan-kawan seperjuangan pun dianggap sepi olehnya.” sambung Jovi Steve, gitaris yang juga pemilik studio Aprima Vista.

Kesimpulan yang bisa kita peroleh dari percakapan dengan teman-teman musisi peserta festival Musik Banda Aceh 2012:  Musisi Banda Aceh jumlahnya banyak, tapi  tidak bersatu. Padahal dengan jumlah yang lebih dari seribu orang kita bisa menjadi suatu kekuatan sosial. Tentu, jargon persatuan itu baik sudah terbukti dalam berbagai aspek. Dan sudah saatnya musisi Banda Aceh itu bersatu.

Banyak hal yang bisa kita dapatkan di saat kita bersatu:

  1.  Menjadi kekuatan sosial yang diperhitungkan, dilihat dari besarnya komunitas. Efeknya adalah ke birokrasi dan ke masyarakat. Dengan adanya persatuan, kita bisa meminta birokrat (baca: pemerintah) untuk lebih peduli terhadap kemajuan kesenian di Banda Aceh. Selama ini porsi untuk musik sangat terbatas, dan yang mendapat bantuan dari pemerintah “orangnya itu-itu saja”. Tidak ada kemajuan yang berarti. Taman Budaya saja yang sudah jelas anggarannya tiap tahun tetap harus kita sewa kalau kita ingin memakainya. Setidaknya, ada lah  “jatah” minimal sebulan sekali gratis bagi musisi muda untuk bikin kegiatan. Pemerintah Aceh dan Kota juga harus lebih banyak memberi peluang bagi musisi untuk maju dengan menganggarkan uang untuk workshop atau pelatihan-pelatihan kesenian atau pun capacity building lainnya. Peningkatan anggaran untuk kegiatan kesenian bisa kita ukur tiap tahunnya bertambah. Belasan milyar rupiah dianggarkan untuk acara kesenian, tapi apa efeknya untuk masyarakat, musisi, seniman, ataupun pendapatan daerah sendiri? KECIL! Yang untung hanyalah event organizer dari luar daerah, dan artis dari ibukota. Dedy Odezza pun pernah bilang: “Suka kali pemerintah kita bawa artis dari luar. Katanya artis kita tidak mampu. Ya iyalah, artis kita tidak diberi lebih banyak jam terbang, udah gitu penghargaan untuk artis lokal sangatlah minim.”
  2.  Dengan bersatu, musisi Banda Aceh akan mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi, terutama dalam menghadapi Event Organizer dan sponsor yang nakal, juga EO plat merah (panitia acara dari dinas/instansi pemerintah). Misalkan kesenjangan dalam anggaran untuk honor band lokal: “Artis luar dibayar 40-60 juta rupiah, artis lokal sebagai pendamping dibayar satu sampai dua juta. Kalau ditolak diberi ke yang lain. ” pendapat lain dari Dian, dari MD Band.
  3. Dengan bersatu, kita bisa saling sharing pengetahuan akan teknik dan skil bermain musik. Diharapkan kualitas musikal musisi kita bisa bertambah baik.
  4. Dengan bersatu, kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.
  5. Bersatu membuat rasa kekeluargaan kita semakin besar. Apresiasi dan simpati akan muncul. Spirit indie bisa diwujudkan disini.  Kita bisa saling men-support dalam produksi album-album lokal. Baik dari proses pembuatan, pemasaran dan promosi.
  6. Dengan bersatu, kita bisa sama-sama saling menjaga mutu dan kualitas bermusik kita dengan saling mengingatkan dan otokritik. Masyarakat pun bisa mendapat tontonan yang baik secara kualitas, edukatif dan mengandung unsur-unsur yang sesuai dengan kearifan lokal.
  7. Dan lain-lain yang positif. :)

So,  what should we do?

Menurut ku simpel aja. Good will dari kita,  mau berubah atau tidak. Sejarah mencatat kita semua pernah berada dalam naungan Gabungan Musisi Aceh di tahun 2000-an awal. Kemudian lembaga ini mati. Kalau kita mau berubah, mari kita bikin kembali lembaga semacam ini.

Sendiri-sendiri kita tidak akan dipedulikan, beramai-ramai kita pasti didengar! NA PAKAT???

GALLERY:

Dimuat juga di atjehpost tanggal 25 Juni 2012 http://atjehpost.com/read/2012/06/25/12990/0/1/Musisi-Banda-Aceh-Harus-Bersatu

2. Genkaceh http://generasikuneng.wordpress.com/2012/06/24/musisi-banda-aceh-harus-bersatu/

About gmaceh

Gabungan Musisi Aceh
This entry was posted in Essay, GMA and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s